Kelompok Masyarakat “Beach Boys for Changes” (BBC) di Pantai Senggigi Ahad 31 Oktober 2021 punya hari istimewa, pasalnya mendapatkan dukungan kolaborasi dari berbagai instasi dan lembaga untuk melaksanakan kegiatan pelepasliaran tukik (anak penyu) sejumla lebih dari 200 ekor. Instasi/lembaga yang berkolaborasi melaksanakan kegiatan ini adalah Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL Denpasar), Ditjen Pengelolaan Ruang Laut, Kementeian Kelautan dan Perikanan; Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Nusa Tenggara Barat, Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Cabang Dinas Kelautan Wilayah Lombok, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Barat, serta Ikatan Alumni Sekolah Kehutanan Menengah Atas (IKA SKMA) Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Kelompok Masyarakat “Beach Boys for Changes” pada hari ini juga telah dikukuhkan menjadi Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB dengan SK nomer 523/1981/05/dislutkan/2021 tanggal 21 Oktober 2021. Kelompok BBC sebenarnya telah melakukan kegiatan sejak tahun 2018 ketika Lombok dilanda bencana gempa bumi. Kegiatan utama BBC yaitu menjaga Pantai Senggigi agar tetap bersih dari sampah, khususnya sampah plastik, melakukan pelestarian satwa dilindungi (penyu) dan melakukan konservasi terumbu karang. Disamping itu BBC memiliki semangat tinggi untuk perubahan stigma pada anak-anak pantai yang cenderung negatif, menjadi anak pantai yang berakhlaq mulia dan berdaya guna.
Bapak Sariman, yang diamanahi sebagai Ketua BBC mengucapkan beribu terima kasih kepada semua pihak yang telah memperhatikan kami dan selanjutnya dimohonkan bimbingan dan arahannya. Kami BBC Senggigi berkomitmen untuk menjaadi kelompok masyarakat pesisir teladan, yang siap untuk menjaga kelestarian sumberdaya pesisir, khususnya penyu. Senggigi dengan panjang garis pantainya kurang lebih 4 km, memliki paling tidak tiga jenis penyu, yaitu penyu lekang (Lepidochelysolivaceae), penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricate). adalah icon andalan pariwisata Lombok. harus tampil berbeda tidak sekedar memanfaatkan sumberdaya yang ada namun turut berpartisipasi dalam menjaga dan melestarikannya.
Dalam sambutan pengarahannya melalui Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Bapak Muslim, Gubernur NTB berpesan bahwa Nusa Tenggara Barat adalah provinsi yang seluruh kabupaten kotanya memiliki garis pantai. Panjang garis pantainya mencapai 2.333 km. Diantaranya menjadi tempat peneluran penyu yang merupakan biota kharismatik yang dilindungi penuh. Kita bersama-sama harus menjaga kekayaan alam tersebut agar lestari, tetap ada di NTB. Pemanfaatannya secara lestari dapat dilakukan dengan bimbingan dan pendampingan dari instansi pemerintah baik daerah maupun pusat melalui kelompok-kelompok masyarakat yang ada, terutama kelompok yang bergerak di bidang lingkungan seperti Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) salah satunya.
Pesan pelestarian penyu juga disampaikan oleh Kepala BPSPL Denpasar, Bapak Permana Yudiarso melalui Koordinator BPSPL Denpasar Wilayah Kerja NTB, Bapak Nurhamdani yaitu bahwa Ditjen Pengelolaan Ruang Laut mendukung penuh upaya pelestarian biota laut dilindungi penyu. Konservasi biota laut penyu menjadi salah satu program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui kegiatan pendataan lokasi-lokasi peneluran penyu, pembinaan kelompok-kelompok pelestari penyu, serta pemberian bantuan sarana-prasarana pelestarian penyu.
Lebih lanjut Kepala BKSDA NTB, Bapak Joko Iswanto menyampaikan bahwa enam dari tujuh jenis penyu di dunia ada di Indonesia. Penyu memiliki status sebagai satwa dilindungi penuh berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemeritah Nomor 7 Tahun 1999. Keenam jenis penyu yang ada di perairan Indonesia adalah: penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), penyu sisik (Eretmochelys imbricate), penyu belimbing (Dermochelys coriaceae), penyu pipih (Natattor depressus), penyu tempayan (Caretta caretta). Di Nusa Tenggara Barat, hampir semua jenis penyu di temukan.
Kegiatan puncak berupa pelepasliaran lebih dari 200 tukik berhasil dilaksanakan dengan baik. Ratusan peserta terdiri dari instansi pemerintah, wisatawan yang kebetulan berada di pantai senggigi sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Ternyata masih ada beberapa orang yang menyatakan baru pertama kali mengikuti kegiatan seperti ini. Ada yang baru tahu bahwa banyak jenis penyu ada di Lombok dan merupakan binatang yang dilindungi penuh oleh negara. Semoga penyu-penyu yang dilepasliarkan mampu bertahan hidup dan nanti kembali lagi ke Senggigi untuk bertelur dan berkembang biak.
Rangkaian acara ditutup dengan aksi bersih sampah pantai yang dikoordinir oleh Ketua Ikatan Alumni Sekolah Kehutanan Menengah Atas. Sampah yang dibersihkan adalah hanya sampah-sampah plastik yang mengancam kelestarian sumberdaya alam. IKA SKMA bangga dapat berkolaborasi dalam acara ini. Selain berwisata di akhir pekan, juga bermanfaat buat lingkungan dan masyarakat luas.
