Industrialisasi Garam

Garam Industri adalah garam yang digunakan sebagai bahan baku yang digunakan untuk kebutuhan farmasi, kosmetik, tekstil, dan sebagainya. Garam industri memiliki NaCL minimal 97%. Khusus untuk Industri pangan, kadar Ca dan Mg < 600 ppm. juga harus memenuhi persyaratan kualitas industri aneka pangan, industri petrokimia, dan lain-lainnya dengan memiliki standar dan klasifikasi tersendiri dengan kadar NaCL yaitu 97 % dan kandungan impurities (sulfat, magnesium dan kalsium serta kotoran lainnya) yang sangat kecil.

Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008. Kebijakan Industri Nasional tersebut menetapkan Industri Perikanan dan Laut sebagai Industri perioritas yang meningkatkan pasokan bahan baku (kualitas dan kuantintas). Peningkatan jaminan mutu dan keamanan produk, nilai tambah, utilitas industry, kemitraan dan intergrasi, dengan berfokus pada komoditas unggulan, dan pasal 5 Permen KKP-RI Nomor  Per.27/Men/2012, tentang Pedoman Umum Industrialisasi Kelautan dan Perikanan.

 

Provinsi NTB memiliki potensi lahan tambak garam seluas 9.785,34 Ha, namun baru dimanfaatkan seluas 2.348,91 Ha, atau 24 %  dengan produksi garam sampai dengan Desember 2019 sebesar 155.722 ton, dan baru dimanfaatkan sebesar 46.581 ton yaitu untuk konsumsi rumah tangga sebanyak 19,6 %, industri non panggan 27,3 % dan insustri pangan 53,1 %.

Selama ini hasil produksi garam di Provinsi NTB dengan kualitas K2 dan K3. Sehingga perlu dilkukan upaya penerapan pola teknologi geoisolator pada lahan tambak terintegrasi bertujuan agar kandungan NaCL garam yang diproduksi bisa mencapai diatas 90 % dan NaCL baru tercapai 80 %. Maka perbaikan kualitas garam, akan dilanjutkan dengan program industrialisasi garam untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas tersebut sehingga petani bisa mendapatkan pendapatan yang lebih baik.


Berikut adalah kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan
Provinsi NTB dalam mendukung industrialisasi garam T.A. 2020 dan 2021Program Industrialisasi tersebut terbagi dua kluster, yakni kluster garam untuk kebutuhan masyarakat di NTB, di mana pelaku industri kecil menengah (IKM) didorong untuk melakukan pengolahan. Kluster lainnya adalah industri besar dengan cara akan membangun pabrik industrialisasi garam merupakan bagian dari program hilirisasi komoditas pertanian dan perikanan Pemerintah Provinsi NTB sesuai dengan yang tertuang dalam Program Strategis NTB Gemilang 2019-2023.

PROGRAM UNGGULAN KEGIATAN INDIKATOR T.A. VOL LOKASI/KET
INDUSTRIALISASI GARAM Integrasi lahan 16-30 Ha 2021 2 PKT Kab. Bima dan Kab. Sumbawa
Revitalisasi Gudang Garam Rakyat (GGR) ˂ 100 ton 1 Unit 2021 1 PKT Kab. Lobar (Desa Cendimenik Kec. Sekotong Kab. Lobar)
Pembangunan Gudang Garam Nasional (GGN) kapasitas 1.000 ton 1 Unit 2021 1 PKT Kab. Lobar (Desa Cendimenik Kec. Sekotong Kab. Lobar)
Inovasi produksi garam dengan metode rumah Tunnel 2 unit 2021 2 PKT Kab. Bima dan Kab. Sumbawa
Inovasi produksi garam dengan metode rumah Tunnel 12 Unit 2020 3 PKT Kab. Lobar, Kab Loteng dan Kab. Lotim (masing-masing 4 unit)
Revitalisasi Gudang Garam Rakyat (GGR) ˂ 100 ton 1 Unit 2020 1 PKT Kab. Loteng
  1. Meningkatkan kesejahteraan petambak garam dan pelaku usaha garam.
  2. Meningkatkan mutu untuk keperluan memenuhi kebutuhan bahan baku Industri garam Nasional.
  3. Meningkatkan keuntungan usaha petambak garam dan nilai tambah yang berimplikasi pada perbaikan kesejahteraan petambak garam.
  4. Meningkatkan kualitas manajemen pengelolaan Kelautan dan Perikanan untuk mendukung Industri.
  1.  Ditjen PSDKP KKP-RI
  2.  Bappeda Provinsi NTB
  3.  Dinas Perindustrian Provinsi NTB
  4.  Dinas Perdagangan Provinsi NTB
  5.  Balai POM Provinsi NTB
  6.  Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi NTB
  7.  Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota

 

Manfaat

  1. Cakupan desa pesisir, dan lingkar hutan yang
    diberdayakan (Gini Ratio (Meningkatnya pendapatan
    petambak garam).

 

Hasil Kerja

  1. Jumlah Kelompok Masyarakat Pesisir yang diberdayakan (5 Kelompok)
X