Budidaya Lobster

Lobster yaitu udang laut, termasuk dalam spesies genus Homarus, berwarna hitam kebiru-biruan, berkaki delapan, dan mempunyai sepasang sepit yg besar; udang karang dan jenis Lobster di Perairan NTB seperti lobster mutiara (Panulirus ornatus) dan lobster pasir (Panulirus homarus) lobster batik (Panulirus longipes), lobster bambu (Panulirus versicolor), dan lobster batu (Panulirus penicillatus).

Provinsi NTB merupakan daerah penghasil lobster dan sumber lobster dengan potensi terbesar di Indonesia, terutama Lombok Timur dan Lombok Tengah

Sejak tahun 2003 Lombok Timur dan Lombok Tengah telah mengembangkan budidaya lobster dengan Keramba Jaring Apung (KJA) dengan menggunakan bahan baku lokal yang diperkenalkan oleh Co-Fish Project-ADB dengan mengandalkan pada benih hasil tangkapan langsung di laut dengan skala tradisional. Tetapi, cara tersebut dinilai belum praktik karena memerlukan waktu proses pembesaran sekitar 8-10 bulan dengan pakan ikan runcah dengan benih ukuran transparan hingga mencapai kisaran 100-125 gram per ekor.

Namun sejak 2013 usaha budi daya lobster mulai beralih dari pembesaran menjadi penangkapan di alam secara langsung dan menjualnya ke pasar internasional melalui jalur ekspor. Negara yang tercatat selalu menjadi tujuan ekspor benih lobster adalah Vietnam, yang sampai sekarang dikenal sebagai negara penghasil ekspor terbesar di dunia

Eksport benih lobster secara besar-basaran, dan dikuatirkan akan terjadi kepunahan terhadap sumberdaya lobster, maka Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia melalui PERMEN Nomor 1/Permen-Kp/2015 Tentang Penangkapan Lobster (Panulirus Spp.), Kepiting (Scylla Spp.), Dan Rajungan (Portunus Pelagicus Spp.). Walaupun adanya Kebijakan pengaturannya akan tetapi penyelundupan ekspor benih lobster semakin meningkat. Maka diterbitkan lagi Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.) di Wilayah Negara Republik Indonesia. Maka di perbolehkan untuk penggelolaan lobster oleh Nelayan dan pembudidaya.

Melihat potensi budidaya yang ada di Lombok timur dan Lombok tengah, maka Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jendral Perikanan Budidaya ingin menjadikan  Provinsi NTB sebagai pusat percontohan budidaya Lobster yang menjadi Pilot Project untuk daerah Provinsi lainnya di Indonesia.

Pada tahun 2020 akan direncanakan pengembangan budidaya Lobster dengan lokasi yaiitu :

1). Kawasan teluk Jukung,

2). Kawasan Teluk Ekas, dan

3). Kawasan teluk Serewe.

PPID Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB.

 

  1. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Perikanan Budidaya Lobster di berbagai daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat
  2. membuka lapangan pekerjaan baru dan menjaga kelestarian perkembangan Perikanan Budidaya Lobster, menjamin peningkatan produksi dan produktivitas usaha Budidaya Lobster
  3. Mewujudkan Provinsi NTB sebagai sentra Budidaya Lobster Nasional dan membangun usaha Perikanan Budidaya Lobster
  1. Ditjen Perikanan Budidaya KKP RI
  2. Bappeda Prov. NTB
  3. Dinas KP Kab/Kota
  4. Balai Budidaya Laut (BBL) Sekotong
  5. Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Pantai (BPBPP) Sekotong

 

Manfaat

  1. Kontribusi sektor Perikanan terhadap PDRB (4,76)

 

Hasil Kerja

  1. Peningkatan Kapasitas SDM Pembudidaya Lobster
  2. Pengembangan Sarana dan Prasarana Budidaya Lobster
  3. Pengadaan Benih Lobster
  4. Pengadaan Pakan Alami Lobster
  5. Monitoring kualitas Air, Hama dan Penyakit Ikan
  6. Pengawasan dan Pengendalian Pemanafaatan sumberdaya Lobster
X